Our Story#Oneshoot


 Our Story | Byun Baekhyun & OC | Romance, Marriage life | Teen | Oneshoot
Story by NIKYoon
Notes :  FF ini kupersembahkan untuk temanku. Dia minta dibuatin FF. Semoga dia suka sama ceritanya. Dan ini murni dari pemikiran author. Maaf jika ada salah dalam penulisan kata.
Don’t be copy paste, because this fanfic is mine
.
.
HAPPY READING GUYS^^

Seo Mi. Gadis yang begitu cantik dan menawan. Mempunyai dua lesung pipi. Rambut yang setiap harinya dia gerai dengan poni yang menutupi dahinya. Dia sangat baik dan ramah pada sesama. Aku Byun Baekhyun tahu semua tentangnya. Namun, tidak dengan sebaliknya. Seo Mi tidak tahu aku. Aku bukan orang yang di kenalnya. Aku hanya sebagai orang yang diam-diam selalu memperhatikannya. Dimana pun dia berada.
.
Memperhatikannya dengan jarak jauh, bagiku itu sudah cukup. Hanya itu yang dapat aku lakukan. Hari-hariku terasa tenang dan damai jika melihat wajahnya yang begitu cantik. Aku tidak tahu mau sampai kapan seperti ini. Memperhatikannya diam-diam. Aku memang lelaki pengecut. Yang tidak berani jujur dengan perasaan ini. Ya. Aku menyukai gadis itu. Aku terlalu takut untuk mengatakannya pada gadis itu.
.
Sampai hari dimana aku dan dia saling menyapa satu sama lain. Dia tersenyum kearahku. Menampakkan lesung pipinya. Detik demi detik berlalu, aku terpesona oleh senyumnya. Terlihat sangat begitu cantik jika dilihat dari dekat. Itulah hari dimana aku bisa melihatnya dengan jarak yang dekat. Hingga aku saling akrab satu sama lain. Dia seseorang yang periang dan murah senyum pada sesama. Hatiku begitu bahagia karena bisa berada di sampingnya. Semenjak itu, aku tidak memperhatikan dia secara diam-diam lagi.
.
Hari demi hari aku selalu menghabiskan waktu bersamanya. Dan aku belum menyatakan perasaanku kepadanya. Aku belum terlalu berani untuk itu. Aku hanya bisa memendam perasaan ini. Hingga suatu hari, sebuah ucapan mampu membuat hatiku begitu hancur. Ucapan itu keluar dari mulut gadis itu. Dia mengucapkan dengan nada yang begitu gembira tapi membuatku sakit ketika mendengarnya.
.
“Baek, hari ini aku sangat senang sekali” ucapnya kala itu. Hingga membuatku penasaran. Kenapa dia begitu senang seperti itu. Aku pun bertanya kepadanya. “Hal apa yang bisa membuatmu sesenang ini?” tanyaku saat itu. Gadis itu tak berhenti tersenyum. Dia terlihat begitu bahagia sekali. “Kekasihku telah kembali dan beberapa bulan lagi kami akan bertunangan” jawabnya. Seketika membuatku terdiam dan kembali mencerna perkataannya.
.
Kekasih. Tunangan. Aku masih mencerna kalimat itu. Hingga aku tersadar. Selama ini aku telah salah mencintai gadis yang sudah mempunyai kekasih. Aku menatap manik matanya dalam. Aku melihat ada sebuah kebahagiaan di dalam diri gadis itu. Lantas, apalah dayaku. Aku bukan seseorang yang spesial di hidupnya. Tak ada hubungan lebih dari sebatas ‘sahabat’. Dia menanggapku sebagai seorang sahabat. Aku terima itu. Namun, hatiku berkata lain.
.
Sedikit ada rasa nyeri yang mendalam di hatiku. Aku berusaha tersenyum. Menutupi rasa sakit yang kurasakan. Memberi ucapan selamat. Itulah yang bisa aku lakukan. Setelah itu, aku pergi dari hadapannya. Dan mungkin itu perbincangan untuk terakhir kalinya. Saat itu juga, aku berusaha untuk membuat perasaan ini hilang. Aku harus melupakan gadis itu.
.
Namun, aku tidak bisa melupakan gadis itu. Setiap hari, aku selalu memikirkan tentangnya. Aku bahkan selalu melihat bayangannya di setiap tempat, ruangan, bahkan termasuk pikiranku. Bayangan dirinya terlihat jelas sekali. Aku frustasi di buatnya. Sampai aku memutuskan untuk berpindah tempat agar semakin jauh darinya dan mungkin aku bisa mudah melupakannya.
.
Namun, kenyataannya. Dia masih tetap berada di pikiranku terus menerus. Sampai suatu hari aku mengunjungi tempat yang bisa membuatku nyaman. Sungai Han. Mungkin itu menjadi tempat favortit akhir-akhir ini. Aku duduk di sebuah bangku di sana dan memandangi sekitar sungai. Sampai aku melihat sesosok gadis yang sudah lama ini aku tidak bertemu dengannya. Yang selama ini berada terus di pikiranku. Yang selama ini sangat ... aku rindukan.
.
Kulihat gadis itu sedikit kucel, kedua mata yang sembab dan seperti bukan Seo Mi biasanya. Gadis itu menatapku dalam dan kulihat air mata mengalir deras di pipinya. Aku tersentak. Mengapa Seo Mi menangis? Lalu, kuhampiri dia dan menghapus air matanya pelan. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya. Seharusnya dia sangat senang karena kurang dari seminggu dia akan bertunangan dengan kekasihnya. Namun, kenapa ini?
.
Gadis itu memelukku erat. Membuatku sedikit terlonjak. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Seo Mi? Dari raut wajahnya ia terlihat seperti sedang ada masalah. Perlahan, aku membalas pelukannya. Ku usap lembut surai hitamnya. Kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Dia menangis di dalam pelukanku.
.
Aku mencoba untuk bertanya kepadanya. “Kenapa kamu menangis? Ada apa sebenarnya?” tanyaku dengan penuh rasa khawatir akan dirinya. “Kenapa kau menghilang, Baek?” dia balik bertanya kepadaku. Aku menghela nafas pelan. Kulepas pelukannya. Kedua tanganku memegang pundaknya. Aku menatap manik matanya yang penuh dengan air matanya.“Pertanyaanku jauh lebih penting. Jawablah” sahutku seraya menghapus air mata gadis itu.
.
“Pertunanganku di batalkan” mendengar ucapannya sontak membuatku terkejut seketika. “Bagaimana bisa? Yaa..! Kau menghancurkan hari kebahagiaanmu sendiri” ujarku. Dia menangis lagi. Aku jadi semakin khawatir kepadanya. “Lebih baik seperti itu dari pada harus bertunangan dengan orang yang tidak mencintaiku. Aku benci dia, Baek. Dia meninggalkanku dan sekarang sedang bersama dengan gadis lain. Dia tidak tulus mencintaiku, Baek!” tangisnya pecah setelah mengucapkan itu. Aku kembali memeluknya dan menepuk punggungnya pelan. Aku merasa tidak sanggup melihatnya seperti ini.
.
“Baek ... kenapa kau menghilang? Sungguh ... aku merindukanmu” lirihnya. Aku tersenyum kecil mendengarnya. Dia merindukanku. Aku juga merindukanmu. Bahkan sangat. “Boleh aku jujur?” tanyaku kepadanya. Dia melepas pelukannya dan beralih menatapku. “Katakanlah” sahutnya. “Sebelum kau mengenalku aku telah memperhatikanmu sudah lama. Aku memperhatikanmu secara diam-diam. Dan pada saat itulah aku akui bahwa aku jatuh cinta padamu. Saat kita telah akrab satu sama lain, hatiku sangat bahagia. Setiap hari aku senang bisa berada di sampingmu. Namun, saat kau mengatakan itu kepadaku, hatiku terasa sakit. Jadi, kuputuskan untuk menjauh darimu dan melupakanmu” jelasku kepadanya.
.
“Kau melupakanku?” sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut mungil gadis itu membuat lidahku terasa kelu. Aku terdiam dan hanya menatap gadis itu. “Kenapa diam saja, Baek. Apa kau sudah melupakanku?” tanyanya lagi, hingga membuat setetes air mataku keluar. Aku menangis di hadapannya. Aku terlihat sangat lemah di hadapan gadis itu. “Cepat jawab!” teriaknya. Hingga akhirnya membuatku angkat bicara.
.
“Aku tida bisa melupakanmu. Semakin aku ingin melupakanmu, semakin lebih aku mencintaimu. Aku tidak bisa jauh darimu”
Gadis itu memeluku erat.
“Buat aku mencintaimu, Baek”
.
.
.
.
_______oOo________
.
.
.
.
“Itulah kisah kami, hingga pada akhirnya ayah dan ibu menjadi seperti sekarang ini. Bahagia bersama dan memilikimu, nak” ucap Baekhyun. Lalu, menutup bukunya pelan dan di letakannya di atas meja sampingnya. Baekhyun memandang gadis kecilnya yang sudah terlelap tidur. Sangat damai, pikirnya.
.
Sebelum, dia meninggalkan putri kecilnya tak lupa ia mengecup lembut kening putrinya itu. Byun Mina. Baru berusia 5 tahun. Merupakan anak dari Byun Baekhyun dan Byun Seomi.
.
Baekhyun memandang wajah putrinya sejenak. Kemudian berlalu pergi dari kamar putrinya. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Seomi yang sedang menunggunya. Baekhyun tersenyum lembut, kepada istrinya itu. Begitu pun dengan Seomi.
.
“Dia sudah terlelap tidur. Kajja kita juga harus tidur” titah Baekhyun pada istrinya. “Terimakasih, Baek” lirih istrinya. “Aigoo ... Sayang tidak usah berterima kasih padaku. Itu memang tugasku sebagai Ayah” ujarnya lalu mengecup lembut kening istrinya.“Saranghae, Baek” ujar Seomi.“Nado saranghae, chagi”
.
“Kau menceritakan apa malan ini?”
“Menceritakan kisah kita, sayang”
“Mwo? Dia masih kecil Baek. Kenapa kau menceritakan itu kepadanya?”
“Biarlah. Tapi, hebat! Dia tertidur”
“Aww..!! kenapa kau memukul kepalaku, Sayang”
“Kau keterlaluan! Seharusnya kau menceritakan dongeng anak bukan kisah percintaan”
“Biarlah. Dia juga harus tahu awal mula kisah kita”
“Sayang... jangan marah padaku”
“Astaga...  saayaaaaang T_T“
.
.
END
Maaf ini endingnya gimana gitu. Haha, agak gaje :v . Baiklah yang udah baca FF ini jangan lupa tinggalkan jejak yeth :-D .


Komentar