Title : AWARE #END
Cast : Kino (Pentagon) – Jiseul (OC) – Sehun
(EXO) and Other
Genre : School life – Hurt – Romance –
Rated : Teen
Lenght : Twoshoot
YEONCHAN Storyline-Yeonie’s Art
.
Notes : Cerita ini punya saya dan murni dari
kerja otak saya sendiri. Untuk cast bukan milik saya karena, saya hanya
meminjam namanya saja. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Untuk part ini
alur cepet jadi maklumin sedikit banget nggak panjang. Maaf karena kehabisan
ide, jadi mentok segitu doang :v dan sorry juga aku baru ngepost kelanjutannya
hari ini.
.
Let’s read and enjoy it!!
.
‘Aku mencintaimu, tak bisakah kau memberiku
celah agar aku dapat menaruh hatiku ini padamu’ -Kino-
‘Sekarang aku tahu, cinta yang terlalu dalam
membawa akhir yang menyedihkan’ -Jiseul-
‘Jangan percaya padaku seperti orang bodoh’
-Sehun-
.
Previous Part ...
.
PLAKKK!!
.
Tamparan keras mendarat di pipi Kino, membuat
Jongin yang hanya melihat pertikaian itu menatap tak percaya pada Jiseul. Dan
juga Kino
“Cukup Kino! Jaga ucapanmu itu. Sehun bukan
namja seperti itu. Kajja Sehun, aku akan mengobati lukamu”
Setelah mengatakan itu Jiseul dan Sehun
beranjak pergi meninggalkan Kino dan Jongin yang masih terdiam di tempat.
.
**
.
“Wow! Benar-benar tidak bisa di percaya.
Seorang Jiseul menampar Kino” celetuk Jongin bertepuk tangan memandangi Sehun
dan Jiseul yang sudah jauh darinya. Sedangkan Kino menatap kecewa kepergian
Jiseul. Seraya memegangi pipinya yang barusan terkena tamparan dari Jiseul.
.
“Kau tak apa kan?” tanya Jongin memandang pipi
sebelah kanan Kino yang agak kemerahan akibat tadi. Sepertinya Jiseul nampak
sangat marah, hingga dia menampar Kino dengan sangat keras. Dan membuat pipi di
sebelah kanan temannya itu berwarna agak kemerahan, pikir Jongin.
.
“.....”
.
Tak ada jawaban dari Kino, namun pria itu
hanya memilih pergi dari sana.
.
“Yak!! kau mau kemana? Makanannya bagaimana?” teriak Jongin.
.
**
.
“Hun-ah, sini aku akan membersihkan darah di
sudut bibirmu” ujar Jiseul . Sehun mendekatkan wajahnya agar Jiseul bisa dengan
mudah membersihkan lukanya.
.
Dengan perlahan gadis itu menempelkan kapas
yang tadi dipegangnya ke sudut bibir Sehun berulang-ulang. Sambil memastikan
agar darah itu benar-benar hilang. Laki-laki itu hanya meringis menahan
sakitnya.
.
“Maaf Hun-ah” ujar Jiseul sembari menghentikan
aktivitasnya dan memandang Sehun lekat.
.
“Maaf? Untuk apa?” tanya Sehun tidak mengerti
apa maksud dari Jiseul.
.
“Karena Kino, kau jadi seperti ini. Maaf atas perlakuan
Kino” jawab Jiseul menundukan kepalanya. Dia tidak terlalu kuat jika melihat
wajah Sehun yang terluka. Apalagi ini karena sahabatnya sendiri yang
melakukannya.
.
“Tidak apa, sayang. Jangan bahas masalah tadi.
Bersihkan lukaku dulu__” pinta Sehun seraya mengangkat dagu gadis yang berada
di hadapannya. Sehingga kepala Jiseul yang tadi tertunduk menjadi terangkat dan
menghadapa tepat di depan wajahnya. Sehun tersenyum manis dan membelai pipi
gadis itu pelan.
.
“dengan perlahan” lanjut Sehun. gadis itu juga
ikut tersenyum dan melanjutkan kegiatannya yang tadi tertunda.
.
.
***
.
.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Tanda
jika semua siswa pulang untuk mengistirahatkan otaknya setelah mereka gunakan
untuk menuntut ilmu semenjak pagi hingga sore ini. Jiseul juga terlihat sedang
akan pulang. Gadis itu, melangkahkan kakinya santai menelusuri koridor sekolah.
.
Sementara dua anak laki-laki sedang
tergesa-gesa, berlarian menelurusi koridor sekolah. Jongin terlihat susah payah
mengejar Kino yang sudah berlari jauh. Sedangkan Kino, dirinya sibuk mencari
gadis yang ia ingin temui. Karena, sebelumnya dia sudah mencarinya di kelas
tetapi gadis itu keburu pulang.
.
Kata temannya, belum lama keluar dari kelas.
Jadilah, Kino tetap mencari Jiseul. Dia akan menjelaskan kebenarannya pada
Jiseul. Karena semenjak kejadian itu, Jiseul jadi berubah dan selalu menghindar
dari Kino. Hal itulah membuat pria itu sangat frustasi.
.
Disisi lain, Jiseul terlihat sudah sampai di
halte. Gadis itu duduk di bangku yang terdapat disana sambil menunggu bus
datang. Kebetulan, halte sangat sepi hanya ada dia. Awalnya, dia akan pulang
bersama Sehun, kekasihnya. Tetapi, lagi-lagi ada urusan mendadak jadi pria itu
membatalkan untuk pulang bersama gadis itu.
.
“Jiseul-ah!” panggil seseorang pada gadis itu.
Jiseul menengok ke arah sumber suara tersebut. Dia melihat Kino sudah berada di
sampingnya menatapnya serius. Jiseul menatap acuh kepada pria itu. Sungguh, dia
terlalu malas menanggapi kata-kata yang akan di ucapkan Kino nantinya. Karena,
dia sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh pria itu.
.
“Jis___”
.
“Sudahlah Kino, aku tak mau mendengar kata-katamu
lagi. Aku benci padamu. Kau bukan sahabatku lagi!” bentak Jiseul yang sudah
terlanjur marah pada pria itu. Mengingat perbuatan pria itu kepada kekasihnya
sendiri.
.
“Kumohon Jiseul. Ak___”
.
Ucapan Kino terputus ketika Jiseul berdiri
untuk menaiki bus yang sudah berhenti di depan halte. Meninggalkan Kino yang
masih menatap Jiseul sayu.
.
“Kau salah Jiseul. Sehun yang seharusnya kau
benci” gumam Kino menatap bus yang sudah melaju jauh.
.
.
**
.
.
Berkali-kali usaha Kino untuk menjelaskan
semua yang terjadi selalu ditanggapi acuh atau bahkan sama sekali tak di respon
dengan baik. Gadis itu, Jiseul sudah terlanjur marah pada pria itu. Hingga hari
ini. Namun, pria itu tak putus asa. Kino berhasil membawa gadis itu ke sebuah
tempat. Tepatnya taman di pusat kota. Yap. Tempat ini memang menjadi saksi saat
mereka dulu masih kecil. Tempat yang menjadi favorit hingga sekarang sampai
mereka menjadi remaja.
.
Namun sekarang, sudah jarang mereka singgahi
untuk beberapa saat.
.
“Sudahlah Kino . Malas jika mendengar
omonganmu. Jika kau sahabatku, seharusnya kau mendukungku. Kenapa kau malah
seperti melarangku untuk berhenti mencintai Sehun??!” ucap Jiseul dengan
penekanan terhadap Kino.
.
“I just want to make you aware. Your appraisal
about Sehun is wrong”
.
“Seriously? I don’t care about it” setelah
mengatakan itu, Jiseul beranjak pergi tak ingin berlama-lama. Lagi pula dia ada
janji dengan Sehun. Mereka berdua akan kencan hari ini.
.
“You will regret, Jiseul!!” teriak Kino tetapi
sama sekali tak diperdulikan oleh gadis itu.
.
.
**
.
.
Jiseul pov
.
Apa aku salah mencintai Sehun?
Apa aku salah jika bahagia?
Kenapa disaat aku ingin bahagia seseorang
melarang?
Kenapa?
Penilaianku terhadap Sehun salah? Benarkah? Yang
aku ketahui ... Sehun, pria yang baik. Aku percaya itu. Dia tak mungkin jika
sedikitpun menyakiti hatiku. Aku percaya itu. Sehunlah satu-satunya pria yang
sangat amat aku sayangi.
.
“Bukan pria yang baik? Omong kosong” gumamku disertai
kekehan kecil.
.
Aku masih melangkahkan kakiku. Menuju kafe, dimana
tempat yang akan menjadi kencanku dengannya. Aku bahagia dan bahkan sangat
bahagia. Namun, kebahagian itu tiba-tiba luntur ketika aku mendapat sebuah
pesan.
.
From : Hunnie
Maaf sayang. Kencan kita terpaksa batal. Ada
urusan. Sekali lagi maaf. Kau masih di rumah kan?
.
Kuhela nafasku pelan setelah membaca sebuah
pesan darinya. Selalu saja seperti ini. Kenapa harus batal? Tetapi mungkin,
urusan itu benar-benar penting jadi Sehun tidak bisa kencan hari ini. Urusan itu
mungkin masalah kantor. Yeah, Sehun memang sekarang sedang berlatih mengurusi
kantor ayahnya. Karena sebentar lagi dia akan menjadi penerus perusahaan yang
dirintis oleh ayahnya sendiri.
.
To : Hunnie
Gwaenchanha. Ya, aku masih dirumah. Kau tepat
waktu. Jika tidak, mungkin aku akan menunggu lama disana.
.
Send
.
From : Hunnie
Syukurlah jika belum berangkat. Aku
mencintaimu Jiseul-ah.
.
“Nado, Sehun. jeongmal saranghae” ucapku
menatap layar smartphoneku. Setelah itu kusimpan kembali ke dalam saku celana
dan melanjutkan perjalanan. Ke kafe pastinya. Sudah terlanjur sampai. Sekedar untuk
mengistirahatkan kakiku sejenak.
.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kafe
tersebut. Kedua manik mataku melihat sesosok yang baru saja mengirimiku pesan.
Dari luar kaca jendela kafe tersebut, sosok itu terlihat sedang asyik
bercengkrama dengan seorang perempuan.
.
‘Apa ini? Apakah ini yang dinamakan urusan?’
gumamku dalam hati seraya kedua mataku masih menatap kedua orang tersebut dari
luar.
.
Aku membulatkan mataku ketika melihat
perempuan itu dengan santainya mencium bibir Sehun. hanya sekilas, tapi
berhasil membuat hatiku merasa sakit dan hancur. Air mataku meluncur jatuh.
Bodohnya aku. Sekarang aku sadar. Ucapan Kino ternyata benar. Sehun memang
bukan pria baik untukku. Aku menyesal. Sangat menyesal tidak mendengarkan
perkataan Kino.
.
Dengan hati yang panas dan emosi yang
menggebu, aku segera masuk ke dalam dan menghampiri mereka berdua. Menatap
marah dan geram kepada mereka berdua. Hingga akhirnya ...
.
PLAKKK!!!
.
Aku menampar pipi pria brengsek itu dengan
tanganku sendiri. wanita yang bersama Sehun menatapku tak percaya atas apa yang
tadi aku lakukan pada Sehun.
.
“Anda siapa? Dan beraninya Anda menampar
kekasihku” Cih! Kekasih?
“Kekasihmu? Cih! Aku juga kekasih dari pria
yang tadi kau cium ini. Aku menamparnya karena, dia pria brengsek. Itu memang
balasan yang harus ia terima” jelasku dengan nada marah.
.
Aku menatap Sehun yang sekarang tertawa kecil
di hadapanku. Dasar pria gila! Apa dia tak tahu yang aku rasakan saat ini.
.
“Terserah apa katamu terhadapku. Dan yang
terpenting kau sudah tahu semua kebenarannya” ujar pria itu dengan kekehan
kecil.
“Dasar sialan! Kita akhiri hubungan ini. Aku
membencimu Sehun!!” bentakku padanya. Meninggalkan mereka berdua dengan keadaan
menangis seperti ini. Aku tak peduli tatapan orang-orang terhadapku. Aku butuh
ketenangan sekarang.
.
.
**
.
.
“Hikss ... hikss .. kau jahat Sehun. Kau
menyakiti hatiku. Aku membencimu Sehun!!” teriakku.
.
“Berhentilah menangis” ucap seseorang sembari
menyodorkan sebuah sapu tangan kepadaku. Aku mendongak dan menatap wajah orang
itu. Seketika aku memeluknya dengan erat.
.
“Kino-ya... maafkan aku” ujarku sesenggukan. Pria
itu malah mengusap air mataku dengan sapu tangan yang ia pegang. Tersenyum
manis seraya menatapku. “Kino .. aku__”.”Sudahlah jangan di bahas lagi.
Sekarang tersenyumlah. Aku tak ingin melihatmu sedih seperti ini” ucapnya
memotong perkataanku.
.
“Kau memang sahabat terbaiku, Kino” ujarku
dengan semangat. Entah kenapa suasana hatiku berubah semenjak ada Kino disini. Dan
aku memeluknya kembali dengan perasaan yang kembali senang.
.
“Sekarang kau sudah sadar bukan. Sehun bukan
pria yang baik untukmu” ujar Kino menatap lekat Jiseul. “Aku menyesal karena
tak mendengarkan ucapanmu dari awal” sahut Jiseul dengan raut muka murung.
.
“Aigoo .. sudahlah tak usah dipikirkan lagi”
.
“Terimakasih Kino-ya. Aku bahagia mempunyai
sahabat sepertimu. Bahkan kau sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri”
.
‘Tak apa jika pada akhirnya seperti ini. Melihatmu
tersenyum, itu membuatku bahagia’
.
END
.
Tuh kan endingnya gaje banget. Au ah udah
mentok disini :v . Yodah, tolong tinggalin komentar atau respon kalian terhadap
fanfic ini. sampai ketemu di fanfic selanjutnya^^

Komentar
Posting Komentar