My First Kiss 6


Title : My First Kiss (Chapter 6)
Author : NIKYoon
Main cast : Moon Taeil (NTC U) & Shin Hana (OC)
Support cast : Kim Seul Mi (OC), Jung Hyena (OC), Jeon Jungkook (BTS), Kwon Soon Young (17’s Hoshi), Kim Jongin (EXO), and other
Genre : Comedy, school life, friendship, romance, etc
Rated : T
Cover by : Yoon17Art
Lenght : Chaptered 
.
.

Notes : Semua jalan cerita di FF ini merupakan hasil pemikiran author. Jangan meng-copast FF ini karena FF ini milik author seorang. Wajib bagi yang sudah membawa FF ini harap tinggalkan jejak berupa komentar, kritik, saran atau apapun yang pasti membangun author agar semangat nulis FF ini. Maaf jika ada typo, walaupun author sudah berulang kali meneliti.  Baiklah, Selamat membaca^^ semoga ini bisa menghibur para readers. 
.
N-I-K-Y-O-O-N >< S-T-O-R-Y-L-I-N-E
.
.
“Terimakasih atas infonya” ucap seseorang disertai senyuman liciknya. Kemudian orang yang memberikan info telah pergi dan membawa sejumlah uang yang di berikan oleh seseorang itu.
.
Tatapan kebencian yang di perlihatkan orang itu sudah jelas bahwa dua anak manusia itulah yang membuatnya seperti ini.
.
Jika dia tak bisa mendapatkan orang itu, berarti gadis itu juga akan sama sepertinya. Membuat mereka menjauh dan saling membenci itulah hal yang sangat mudah di lakukan olehnya. “Tunggu saja, permainan akan di mulai” ucap orang itu dengan smirknya.
.
.
.
Suasana di ruang kelas 1-4 terlihat sepi dan hanya ada dua orang siswa. Hana dan Seulmi telah menyelesaikan tugas piketnya. Saat ini Hana tengah membereskan buku-bukunya yang belum ia masukkan ke dalam tasnya. Seulmi yang sudah selesai, menghampiri Hana berniat ingin mengajak pulang bersama.
.
“Hana-ya, ayo pulang” ajak Seulmi.
.
Sebenarnya, Hana sangat ingin pulang bersama Seulmi. Tapi ia teringat dengan pesan ibunya, supaya pulang dengan Taeil. Hana jadi sedikit tidak enak jika harus menolak ajakan Seulmi. Padahal sudah beberapa hari ini dia tak pulang bersama dengan Seulmi.
.
Hana menghela nafasnya pelan. Kemudian, ia menggendong tasnya. “Maaf, tapi hari ini aku tak bisa pulang denganmu. Jadi kau duluan saja” ucap Hana kemudian disertai sedikit senyuman.
.
Mendengar itu Seulmi merasa kecewa. Padahal dia ingin mengajak Hana untuk berkunjung kerumahnya hari ini. Mungkin lain kali bisa?
.
“Ya sudah. Aku dulua, bye” pamit Seulmi dan langsung keluar dari kelas. Sepeninggal Seulmi, Hana juga melangkah pergi keluar kelas. Namun saat ia tepat berada di pintu kelas, Hana mendapati Taeil tengah berdiri di samping pintu. Itu membuat Hana sedikit terkejut.
.
“Eoh sunbae? Sejak kapan berdiri disini?” tanyanya.
.
“Ehm... mungkin baru beberapa detik yang lalu dan sekarang sudah hampir semenit” jawab Taeil.
.
“Ayo, kita pulang” tambah Taeil.
.
Hana menangguk pelan. Tiba-tiba, Taeil meraih tangan Hana hingga membuat Hana tersentak. Lelaki itu tersenyum kecil. “Bukankah setiap pasangan harus melakukan ini?” tanya Taeil. Hana agak canggung dan gugup di suasana seperti ini.  Ini adalah pertama kalinya dia bergandengan tangan seorang namja.
.
“A-ahh gurrae” ucap Hana lirih.
.
.
“Sial, mereka semakin dekat saja” gumam seseorang yang tadi melihat Hana dan Taeil berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Orang itu adalah Jung Hyena. Gadis itu tak suka jika Hana semakin dekat dengan Taeil.
.
“Hana, awas saja nanti. Kau akan masuk dalam permainanku setelah ini” ucap Hyena dengan senyum liciknya.
.
HENING itulah suasana di dalam mobil yang di naiki Hana dan Taeil. Tak ada pembicaraan apapun setelah Taeil menanyakan kabar untuk kedua orang tua Hana. Gadis itu tak suka suasana hening seperti ini. Dia berniat ingin mengajak Taeil mengobrol tetapi dia ragu-ragu. Kenapa Hana yang banyak bicara jadi pendiam seperti ini?
.
Mungkin karena namja di sampingnya yang membuatnya seperti ini?!
.
Begitu pun dengan Taeil, dia juga tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Jadi, dialah yang memulai pembicaraan.
.
“Eung.. Hana” merasa namanya terpanggil Hana langsung menoleh kearah Taeil. Namun, laki-laki itu masih fokus terhadap jalanan. Karena, Taeilah yang menyetir mobil tersebut. “Ada apa?” tanya Hana. “Ibuku memintamu untuk setiap hari berkunjung kerumah” lanjut Taeil. Hana menautkan alisnya. Dia disuruh untuk berkunjung ke rumah dan pastinya di sana bertemu dengan orangtua Taeil. No way. Bertemu dengan Taeil saja seperti ini rasanya. Apalagi dengan kedua orang tuanya. ASTAGA~ mungkin dia tambah semakin gugup dan canggung.
.
Tak mendengar respon Hana, Taeil memanggil nama gadis itu lagi.
 “Hana-ya” panggil Taeil (lagi).

“Kau mendengarkanku ‘kan?” tambahnya.

“Oh ne... “ sahut Hana.

“Eum... sunbae mungkin sekarang bisa. Lagi pula aku tak ada kegiatan”

“Baiklah...”

“Hana-ya... kenapa kau selalu memanggilku sunbae?”

“Eung... kan, itu panggilan adik kelas kepada kakak kelas”

“Jangan panggil aku sunbae, seperti kita tidak kenal saja”

“Ye? Lalu aku harus memanggilmu apa?”

Taeil berpikir sejenak. Mungkin oppa tak masalah baginya. Dia dan Hana memang terpaut setahun ‘kan? Tapi bagaimana mungkin dia memberitahukan kepada Hana. Lebih baik terserah Hana saja.

“Terserah. Apa saja, yang penting jangan sunbae otte?”

“Baik... sunb... ehh oppa”

Rasanya sangat senang sekali jika ada seseorang yang memanggilnya oppa.  Taeil tersenyum kecil ketika Hana memanggilnya oppa. Gadis itu benar-benar mampu membuatnya senyum seperti ini. Taeil yang dingin telah meleleh oleh pesona seorang Hana.
.
.
SKIP

:::+::: Kediaman keluarga Moon :::+:::
.
.
Melihat kedatangan Hana dan Taeil, Ny. Moon sangat bahagia sekali. Lalu, ia menyambut mereka dengan senyumannya. “Wah... kalian datang” sambut Ny. Moon. Ia langsung memeluk Hana dan membiarkan anak kandungnya berdiam diri menatap mereka yang sekarang sedang berpelukan. Taeil berdecak kesal. Sebenarnya, siapa yang disini anaknya sih?, pikirnya.
.
Lalu, dia meninggalkan mereka yang masih senangnya berpelukan. Taeil duduk di sofa dan menatap mereka sebal. “Aigoo... Ibu, seperti tak melihat Hana beberapa tahun saja” cibir Taeil menatap malas mereka. Mendengar itu, Ny. Moon langsung melepas pelukannya dan menatap Taeil yang sekarang telah duduk di sofa.
.
“Hey, bilang saja kau ingin di peluk ibumu” sahut Ny. Moon terkekeh kecil. Lalu, Ny. Moon beralih menatap Hana. “Hana-ya, ayo duduk” ajak Ny. Moon kepada Hana untuk duduk. Gadis itu menangguk kecil sambil tersenyum. Dan langsung menuruti apa yang di ucapkan Ny. Moon barusan. Hana memilih duduk agak jauh dari Taeil.
.
Kalian tahu ‘kan?! Hana akan merasa canggung dan gugup bila dekat dengan Taeil.
.
Ny. Moon yang menyadari bahwa mereka duduk berjauhan hanya terkekeh kecil dan sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya. “Aigoo anak muda ini” gumam Ny. Moon. Taeil dan Hana hanya bertatap-tatapan. “Ibu tinggal dulu sebentar” ucap Ny. Moon kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
.
‘Apa ibu sengaja, supaya aku berdua-duaan dengan Hana?’ batin Taeil menatap kepergian ibunya.
.
Taeil kemudian menatap Hana yang sedang memandangi sekitar ruangan. Taeil tersenyum kecil. Lalu, ia mendekati Hana. “Hana, ingin berkeliling?” tawar Taeil. Hana mengangguk setuju. Lalu ia mengikuti kemana arah Taeil pergi. Lelaki itu, mengajak Hana berkeliling di sekitar rumahnya. Ny. Moon yang melihat mereka hanya bisa tersenyum. Mereka memang sudah cocok, pikirnya.
.
.
.
.
Jongin berdecak sebal. Sudah lama ia menunggu Jungkook dan Soon Young. Tetapi mereka belum datang sampai sekarang. Harus menunggu berapa lama lagi? Astaga~ dia mulai bosan sekarang.  Jongin lagi-lagi melihati jam tangannya. Sudah hampir jam dua.
.
“Astaga... kemana mereka? Bisa tidak jadi ke rumah Taeil nih” gerutu Jongin memandang kearah jalanan. Siapa tahu mereka muncul.
.
“Tenang saja, jadi kok kerumah Taeil” sahut seseorang yang sudah Jongin tunggu selama hampir satu jam. Soon Young dan Jungkook, mereka sudah datang.
.
“Aigoo~ kenapa lama sekali?”

“Biasa ada urusan sebentar”

“Huh.. beritahu aku dulu bila kalian datang agak terlambat ‘kan aku jadi nggak nunggu kalian terlalu lama”
“Maaf aku lupa”

“Tsk... sudahlah. Ayo kita berangkat”
.
.
Taeil mengajak Hana ke taman. Gadis itu berdecak kagum saat melihat sekeliling taman tersebut. Berbagai macam bunga ada disana. Warna mereka cerah dan cantik hingga menambah kesan indah taman tersebut.
.
“Kau suka bunga?” tanya Taeil pada Hana. Karena, pertama kali mereka sampai kesini, Hana langsung menghampiri bunga-bunga yang berjejer rapi di taman. Gadis itu menangguk tanpa menoleh ke arah Taeil. Dia masih melihat-lihat bunga tersebut.
.
“Aku suka dengan taman ini. Tak seperti tamanku di halaman rumah”

“Wae?”

“Bunga disana tak sebanyak bunga disini”

“Oh seperti itu”
.
.
“Ehm... apa ibu menanggu?” Taeil dan Hana menoleh ke arah Ny. Moon. Hana menggeleng pelan begitu juga dengan Taeil. Lalu, mereka menghampiri Ny. Moon. “Ada apa bu?” tanya Taeil pada ibunya.

“Apa berkelilingnya masih lama? Ibu mau mengajak Hana untuk membantu ibu memasak? Tak apa ‘kan Hana?!”

“Tidak apa kok bu, lagian aku juga sudah puas berkelilingnya”

“Kalau begitu, ayo kita ke dapur dan memasak makanan yang enak”
.
.
Hana dan Ny. Moon sedang terlihat sibuk untuk menyiapkan bahan masakan yang akan mereka pakai. Hana mencuci sayurannya sedangkan Ny. Moon memotong ayam yang baru dia ambil di kulkas. Hana terlihat sangat mahir dalam memasak. Karena sudah dari kecil, ia membantu ibunya memasak. Jadi, memasak bukanlah hal yang sulit bagi Hana. Taeil yang sedari tadi memperhatikan Hana tersenyum kecil.
.
Baginya, Hana adalah gadis yang sempurna. Dia sudah sadar bahwa ia menyukai gadis itu. Dia bangga di jodohkan dengan Hana. Tetapi, Taeil tak tahu apakah Hana juga menyukainya atau sebaliknya. Namun, dia berharap dia bisa bersama Hana dan menjadi pasangan yang saling menyayangi dan mengasihi untuk selamanya.
.
Itu saja yang Taeil harapkan.
.
.
Sudah setengah jam mereka-Hana dan Ny. Moon-berkutik di dapur. Dan juga dengan Taeil yang setia di tempat duduknya dan melihati mereka yang sedang memasak. Ny. Moon berdecak kesal, melihat putra satu-satunya hanya duduk dan melihat. Buat apa disini jika tak membantu. Ny. Moon mencuci tangannya dan kemudian dia menghampiri Taeil yang masih setia memperhatikan Hana.
.
“Ehm.... apa tak ada kegiatan selain duduk dan......” Ny. Moon melirik Hana sebentar kemudian melanjutkan ucapannya. “memandang Hana” sambungnya.
.
“Kan ibu tahu, aku tak pintar dalam memasak” ucap Taeil tetapi arah pandangannya masih tertuju pada Hana.
.
“Jika kau mau lebih dekat dengannya dan memandang wajahnya secara langsung. Bantu dia, ibu ingin keluar sebentar”
.
“T-tapi....”
.
“Tak ada penolakan”
.
.
Taeil menangguk pelan dan menuruti apa yang ibunya perintahkan. Lalu, ia beranjak dan menghampiri Hana yang tengah memotong sayuran. Hana menoleh sebentar ketika Taeil berada di sampingnya. Lalu melanjutkan aktivitasnya.
.
“Apa aku boleh membantu?” tanya Taeil sedikit ragu.
.
Hana menoleh kearah Taeil dan tersenyum kecil. “Boleh kok”
.
“Ini potong cabai dan juga bawang merahnya” sambungnya.
.
“Baiklah...”
.
Taeil mulai memotong cabai terlebih dahulu, setelah semua telah terpotong kemudian ia mengambil bawang merah kemudian di kupas terlelebih dahulu kulitnya. Setelah itu, ia potong.
.
“AWW!!” pekik Hana ketika jari telunjuknya tergores oleh pisau. Taeil yang mendenggar itu langsung menoleh kearah Hana dan mendekat. Taeil melihat jari Hana mengeluarkan darah. Hingga Taeil cemas. Lalu, tanpa persetujuan Hana, Taeil langsung meraih tangan gadis itu dan dihisapnya darah yang keluar dari jari gadis itu. Supaya tak keluar tak terlalu banyak.
.
Kemudian, Taeil meludahkannya ke wastafel dan menghidupkan keran airnya supaya bekas darahnya mengalir.
.
Hana masih membulatkan matanya setelah apa yang Taeil lakukan kepadanya. Laki-laki itu berusaha mengobatinya. Sebelumnya, Taeil menghisap darah yang masih keluar kemudian dia berlalu pergi dan datang dengan membawa kotak P3K.
.
Taeil mengambil kapas lalu ia tempelkan ke jari Hana yang terluka. Agar bekas darahnya benar-benar bersih. Lalu ia mengambil handsaplas untuk di tempelkan ke jari Hana.
.
“Akhirnya... lain kali hati-hati jika menggunakan pisau”

“E-eoh... gomawo o-oppa”

“Dan sebaiknya kau duduk saja biar aku yang melanjutkannya”

“Tidak... aku masih bisa kok”

“Tapi, bagaimana jika tergores lagi”

“Aku akan hati-hati,, oppa tenang saja”

“Baiklah”
.
“Ehm..ehm..ehm” sebuah deheman membuat mereka menoleh ke sumber suaranya. Taeil dan Hana terkejut melihat Jungkook, Jongin dan Soon Young tengah duduk di kursi makan dan menatap mereka berdua.
.
‘Apa mereka sudah lama berada disitu?’ batin Hana.
.
‘Kenapa aku tak menyadari bahwa mereka sudah berada disini’ batin Taeil.
.
Kedatangan mereka membuat suasana menjadi canggung seperti ini. Mereka bertiga memperlihatkan senyuman idiotnya. Mereka tahu bahwa sudah menganggu suasana romantis yang terjadi sebelumnya. Dan mereka memang penganggu disini. Astaga.
.
“Kookie, sepertinya aku tak perlu melihat drama setelah ini”

“Yak! Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Hey, terdengar menjijikan di telingaku kau tahu? Ah kau benar. Padahal yang tadi sangat romantis”

“Kenapa tak di teruskan, kalian berdua seperti pemain drama tau nggak tadi?! Hingga kami bertiga menikmatinya”
.
Taeil sungguh ingin menutupi wajahnya sekarang. Ada rasa malu dan kesal dengan mereka. Ingin rasanya ia mengomeli ketiga temannya. Tapi, melihat Hana masih ada disini ia urungkan niatnya.
.
“Sudah berapa lama kalian disini?” tanya Taeil dengan nada yang dibuat santainya. Mereka lagi-lagi memperlihatkan senyuman idiotnya. “Semenjak kau mengobati luka yang ada di jari Hana” jawab Soon Young.
.
“Kenapa aku tak menyadari kalian disini?”

“Karena kita diam-diam lagi pula ibumu supaya menyuruh kita untuk jangan berisik”

“Aishh.... IBUUUUU~”
.
.
.
TBC
.
Gimana nih untuk chap ini? Jung Hyena masih belum sepenuhnya muncul di chap ini. Tapi untuk chap berikutnya rencana Hyena akan di mulai. Tinggalkan jejak jika sudah membaca.


Komentar